23 total views,  1 views today

Indonesia memiliki keragaman hayati yang dapat diolah menjadi jamu atau obat-obatan tradisonal. Khasiat produk turun temurun ini diyakini masyarakat Indonesia, terutama di pedesaan dan masyarakat adat, sebagai obat mujarab yang aman dari efek samping. Oday Kodariyah, warga Desa Cukang Genteng, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, adalah pengguna setia obat tradisonal. Dia rutin minum air rebusan dari berbagai daun, batang, hingga akar tumbuhan obat yang dia tanam di kebunnya. “Saya rutin menggunakan obat tradisonal dari berbagai jenis tumbuhan sejak 27 tahun silam,” kata Oday, dalam Webinar Bioprospecting dan Kearifan Lokal: Peluang dan Tantangan Menuju Pemanfaatan Lestari yang diadakan Mongabay Indonesia dan Yayasan KEHATI, Kamis [05/11/2020].

Tahun 1991, Oday didiagnosis menderita kanker serviks. Penyakit itu membuatnya, selama tiga tahun, selalu bersentuhan dengan obat kimia. Puncaknya, tubuh Oday tidak sanggup lagi menerima obat tersebut. Ketika itu bibir dan kakinya mulai bengkak, tubuhnya kesemutan dan gatal. Dia juga mengalami pendarahan sampai kadar hemoglobinnya turun drastis. “Tak ada tanda perkembangan membaik. Saya beralih ke obat tradisional, minum rebusan bawang dayak [Eleutherine bulbosa].”

Penyembuhan dengan obat herbal berbuah baik. Dia berlahan bisa beraktivitas seperti sediakala, hingga penyakit kankernya dinyatakan sembuh. Dari pengalaman itu, Oday menanam tumbuhan obat di kebunnya seluas 4 hektar. “Masyakat setempat pun ikut merasakan manfaat dari tumbuhan obat yang saya tanam.” Seiring waktu, kebun itu bertambah luas hingga 21,3 hektar. Ada sekitar 900 tanaman obat ditanam. Selain mengembangkan kebun tanaman obat, Oday membuat klinik sendiri yang digunakan sebagai pusat konsultasi dan informasi.

Atas perjuangannya, Pemerintah RI memberikan Oday penghargaan Kalpataru 2018 kategori Perintis Lingkungan. Kalpataru adalah penghargaan yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Kalpataru sendiri adalah bahasa Sanskerta yang berarti pohon kehidupan. “Saya selalu mendorong orang yang saya kenal untuk memanfaatkan warisan leluhur kita, yaitu obat tradional. Apalagi di musim corona [COVID-19] ini, banyak-banyaklah minum rebusan tumbuhan obat, seperti jahe merah dan sebagainya,” tutur dia kepada Mongabay Indonesia.

Bergandengan dengan ilmu farmasi

Akhmad Saikhu, Kepala Balai Besar Penelitian Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisonal, Kementerian Kesehatan RI mengatakan, eksistensi obat tradisional tidak akan tergoyahkan di tengah perkembangan ilmu farmasi yang telah menghasilkan berbagai obat kimia seperti saat ini. Menurutnya tumbuhan obat yang diyakini masyarakat, kini sudah banyak teridentifikasi dan diketahui khasiatnya secara ilmiah, berdasarkan pengamatan peneliti.

“Tumbuhan obat memiliki senyawa yang bermanfaat untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit, melakukan fungsi biologis tertentu, hingga mencegah serangan serangga dan jamur.” Dia juga menegaskan, yang masuk tanaman obat adalah jenis tanaman yang sebagian, atau seluruh, atau isi selnya digunakan obat, bahan dan ramuan obat-obatan.

Obat tradisional merupakan bahan atau ramuan bahan berupa tumbuhan, bahan hewan, mineral, sediaan sarian [galenik], atau campuran bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan. “Paling penting dapat diterapkan sesuai norma di masyarakat.” Agar tanaman obat terus berkembang di tengah masyarakat dan dunia medis modern, Saikhu mengatakan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu penguatan modal kelompok petani, peningkatan sumber daya manusia, pemanfaatan paket teknologi, pengembangan sentra produksi, hingga benih atau bibit.

Dengan upaya itu, keuntungan akan didapat, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat, penjaminan kontinyuitas suplai bahan baku, pelestarian ekosistem dan plasma nutfah, hingga peningkatan kuantitas dan kualitas hasil produksi tanaman obat. Saikhu menuturkan pilar pengembangan tanaman obat, yakni pemeliharaan mutu, keamanan dan kebenaran khasiat; keseimbangan antara suplay dan permintaan; pengembangan dan kesinambungan industri hulu, industri antara, dan hilir; pengembangan dan penataan dasar, termasuk pelayanan kesehatan; juga penelitian pengembangan dan pendidikan.

Pemerintah RI serius dengan hal tersebut. Terbukti adanya Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Tujuannya, kata Saikhu, untuk mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan dalam negeri. Sementara, rencana aksi pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan sudah termaktub dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 Tahun 2017. “Industri farmasi dan alat kesehatan harus mengutamakan penggunaan bahan baku hasil produksi dalam negeri.”

Roadmap pengembangan jamu

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga telah membuat roadmap pengembangan jamu 2011-2025. Analisis lingkungan telah dilakukan dan kekuatannya adalah Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, kuatnya tradisi kebudayaan penggunaan jamu, hingga tersedia sumber daya manusia. Adapun kelemahannya adalah belum optimalnya pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia hingga terbatasnya kebijakan dan regulasi. Namun, peluang pengembangan jamu tetap ada, yaitu tingginya potensi pasar lokal dan global, adanya pola hidup back to nature, hingga program sintifikasi jamu. “Ancamannya juga besar, mulai produk saingan luar negeri sebagai dampak globalisasi serta pasar bebas,” ucap Saikhu.

Degradasi plasma nuftah karena lemahnya perlindungan, pengawasan, dan pelestarian menjadi ancaman serius, selain maraknya jamu ilegal hingga masuknya tenaga kerja asing dalam pelayanan kesehatan. Berdasarkan data Balai Besar Penelitian Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisonal, pada 2019 industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh sebesar 200 persen. Saat ini ada 206 industri farmasi dalam negeri, rinciannya 178 perusahaan swasta nasional, 24 perusahaan multi national company, dan 4 perusahaan Badan Usaha Milik Negara [BUMN]. “Sebanyak 78 persen suplay produk formasi pasar domestik dipenuhi produksi lokal,” kata Saikhu. Masalahnya, industri farmasi itu masih ketergantungan pada impor bahan baku obat.

Sumber berita: https://www.mongabay.co.id

Author Profile

Hakim Kurniawan
Hakim KurniawanEmail: hakimkurniawan@pertanian.go.id
Peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Balitbangtan, Kementan. Beraktivitas dalam kegiatan pengelolaan sumber daya genetik (SDG) pertanian di Bank Gen Pertanian, serta aktif dalam Kesekretariatan Komisi Nasional (Komnas) Sumber Daya Genetik.